Terowongan baru di bawah Masjid Al-AqshaTerowongan baru di bawah Masjid Al-AqshaTerowongan baru di bawah Masjid Al-AqshaTerowongan baru di bawah Masjid Al-Aqsha

Iklan

Sumber : http://www.infopalestina.com/lihatberita.asp?id=6756

Kantor berita Lebanese Broadcasting Corporation (LBC) yang bermarkas di Lebanon, tanggal 21 Desember 2006 yang lalu menayangkan gambar dan foto terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha. Dalam laporannya yang dimuat kembali oleh harian Libanon“Amal Syahadah” menyebutkan, penggalian terowongan oleh yahudi Israel di bawah Masjid Al-Aqsha dimulai kembali. Tampak dalam gambar sejumlah terowongan di bawah masjid yang sudah dibangun menggunakan beton dan seluruh lantainya dipasangi bahan kaca. Hal ini menegaskan bahwa penggalian ini, semakin mendekatkan mereka pada tujuannya. Yaitu, menguasai secara penuh masjid Al-Aqsha. Terowongan ini merupakan tempat ziarahnya bangsa yahudi. Orang di luar yahudi tidak diperbolehkan memasuki ruangan ini. Sementara pintu masuknya dijaga ketat tentara yahudi yang bersenjatakan lengkap. Laporan LBC ini juga memuat pernyataan Syaikh Kamal Khotib, wakil ketua gerakan Islam Palestina. Ia menyebutkan, penggalian terowongan tersebut sudah melebihi batas penyelidikan, yang dijadikan alasan bagi Israel dalam melakukan kegiatannya itu. Kegiatan mereka sekarang sudah mengarah pada pembangunan sinagog yang mereka impi-impikan. Syaikh Khotib mengatakan pada fase berikutnya kita akan menyaksikan pembangunan sinagog di bawah Masjid Al-Aqsha yang lebih besar dari ini. Sekarang bangunannya masih berada di bawah Al-Aqsha. Besok kemungkinan sudah berdiri di atasnya. Inilah yang kita khwatirkan, ungkapnya. Berdasarkan laporan ini, maka Lembaga Al-Aqsha Palestina memberikan pernyataan sikap, Laporan dari LBC di atas menegaskan, bahwa pembangunan terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha masih terus berlangsung, sejak dimulainya penjajahan mereka di kota Al-Quds tahun 1967 hingga sekarang. Lembaga Al-Aqsha menganggap pembuatan terowongan tersebut sangat berbahaya terhadap eksistensi Masjid Al-Aqsha. Pembangunan terowongan tersebut telah menyebabkan retaknya sebagian tembok Masjid Al-Aqsha. Di antaranya, tembok bagian barat yang hampir runtuh. Padahal sudah diingatkan sebelumnya oleh lembaga waqaf Islam dan lembaga Al-Aqsha. Masjid Al-Aqsha saat ini, dalam kondisi sangat mengkhawatirkan, yang sebelumnya sudah diwanti-wantikan oleh gerakan Islam Palestina, melalui ketuanya, Syaikh Raed Shalah dan wakilnya Syaikh Kamal Khotib. Lembaga Al-Aqsha menyerukan ummat Islam dan dunia Arab secapatnya mengambil langkah penyelamatan terhadap Masjid Al-Aqsha yang tampak semakin kritis. Seruan serupa disampaikan kepada para pemimpin Arab yang telah memberikan perhatiannya terhadap masjid Al-Aqsha, untuk meningkatkan intensitas perhatiannya terhadap masalah Al-Quds dan masjid Al-Aqsha agar tersebar opini bahwa kondisi Al-quds dan Masjid Al-Aqsha sedang sangat kritis.

Berikut ini adalah penjelasan Teh Ninih mengenai poligami yang dilakukan oleh AA Gym. Kutipan di bawah ini adalah kelanjutan dari tulisan yang berjudul Penjelasan AA Gym Tentang Pernikahan Kedua. Kutipan di bawah ini juga bersumber dari rekaman yang sama, yang dipindahkan oleh Sdr.Donny Reza (psychoavatar.blogspot.com) menjadi tulisan, mudah-mudahan bisa membantu siapapun yang membacanya untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas perihal pernikahan kedua AA Gym. Selain itu, dituliskan juga alasan AA Gym memilih Alfarini Eridani (Teh Rini). Hal ini sangat penting juga untuk disertakan sehingga akar masalahnya menjadi jelas, tidak sekedar gosip, atau ghibah.

————————————————-

Penjelasan Teh Ninih

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh…

Maha suci Allah, yang melembutkan hati-hati kita. Mudah-mudahan dengan kelembutan hati, Allah menuntun kita agar kita mudah untuk menerima kebenaran. Terima kasih AA…saya pribadi merasa bersyukur memiliki suami yang diberikan karunia yang sangat besar, bisa mengenal Allah sejak sebelum menikah. Dan saya…banyak evaluasi untuk saya sebagai istri, kurang terima kasih saya kepada suami, sehingga dengan pernikahan 20 tahun, walaupun saya sebagai istri sudah mulai dikenalkan dengan Allah oleh orang tua, tetapi untuk langsung bisa mempraktekan, Alhamdulillah, syariatnya lewat AA. Hakikatnya Allah SWT yang sayang, Allah memilih AA.

Perjalanan 20 tahun menikah penuh dengan liku, kadang sering tidak setuju dengan apa yang AA lakukan. Berawal dari bagaimana AA selalu melatih istri untuk tidak cinta dunia. Sempat terpikir, “Kenapa AA seperti ini, kok nyiksa istri…?”. Tetapi, subhanallah, dengan kesabaran AA, sebagai suami begitu paham perasaan istri. Dan 20 tahun kemudian, inilah saatnya, latihan demi latihan yang luar biasa ujian besar. Di saat istri sangat cinta kepada suami, karena suami sedang diuji dengan penghormatan, dan suami juga selalu memuji istri. Nah, pada saat inilah, subhanallah, Allah mendatangkan kejadian yang menguji keikhlasan istri. Maka yang pertama kali, hikmah dari kejadian ini, “Ya Allah, saya sedang diuji dengan kemudahan, dengan penghormatan”. Dan suami begitu bangga kepada saya, kadang terucap dalam hati, dalam pikiran…”inilah saya yang paling hebat, yang bisa mengantarkan suami saya menjadi hebat seperti ini”…Allah nggak suka, Allah Maha Cemburu…”Bukan karena engkau…”, bukan karena saya sebagai istri, tapi Allah yang menuntun, Allah yang memberikan kekuatan kepada suami. Maka, Allah mendatangkan seorang wanita yang AA pilih sebagai istrinya.

Awalnya, hancurlah sudah perasaan diriku…tapi, subhanallah, terus minta kepada Allah…oh, ternyata nggak ada yang hebat, tidak ada yang hebat, yang hebat hanya Allah. Itulah ujian keikhlasan, sehingga akhirnya…ketika tahu bahwa AA sudah menikah, subhanallah, pasti ini ada hikmahnya, pasti ada hikmahnya. Langsung merujuk apakah ini akan mengikuti nafsu saya takut kehilangan…kehilangan…nama istri AA Gym yang hebat, atau merujuk kepada hukum Allah. Istikharah, sujud, minta tolong, sambil menangis…dan, subhanallah, ketika hati kita lembut, itu terasa sekali penghambaan kita kepada Allah, minta yang terbaik…minta yang terbaik. Dan, Allah membukakan hati bahwa apa yang dilakukan suami saya ini adalah sebuah kebenaran. Saya harus berjuang untuk memanage nafsu…memanage nafsu.

Dan, yang kedua, hikmahnya adalah, setelah meyakini bahwa ini sebuah kebenaran, disinilah benar, bahwa dengan poligami itu sangat komplit, bagaimana manajemen qalbu bisa dilatih semuanya. Yang pertama, bagaimana melatih supaya tidak dengki kepada orang. Di saat ada orangnya, dengki tidak? padahal hati terusik. Kalau saya dengki, berarti terhalang saya untuk mendekat kepada Allah. Kemudian yang kedua, evaluasi untuk diri. Apakah ini, saya termasuk tamak, tidak mau berbagi? Padahal selama ini, di hadits, di Quran…bahwa kita harus mencintai saudara seiman seperti mencintai diri sendiri. Saya punya suami yang begitu hebat, sholeh, kaya, cakep…ini orang yang paling saya cintai, bisa nggak berbagi kepada sesama muslimah. Ternyata tidak mudah AA…(terdengar audiens dan Teh Ninih sendiri tersenyum/tertawa ringan)…ngejungkel(terjungkal) juga yah? Istilahnya…AA takut sama yang lain. Tapi, subhanallah, dengan pertolongan Allah, terus diberikan pemahaman…pemahaman. Berarti saya nggak boleh mundur, ini kesempatan, harus lulus…harus lulus…harus bisa.

Itu hikmah yang kedua, dan yang terakhir, barangkali ini satu harapan dari Teteh sebagai…sebagai orang yang dipilih mendampingi AA dalam berjuang. Di saat melihat akhwat, perilaku kepada teh Rini khususnya, sangat beragam. Sampai ada yang ingin menjenggut katanya kalau ketemu, ingin menjambak, ada yang malah sampai…disihir aja katanya, A, diguna-guna. Wah, udah macem-macem. Pokoknya, subhanallah, ini sebuah pelajaran untuk saya secara pribadi…oh, berarti sikap wanita itu sangat beragam, dan saya tidak bisa menuntut akhwat sama, semua legowo, semua memaafkan…tapi inilah tanggung jawab seorang pendakwah, seperti apa yang AA tadi sampaikan. Jadi, maaf sekali…Teteh menghargai sekali yang sayang kepada teteh mungkin sangat ingin, membalas lah…kalau itu dikatakan ketidaksukaan, bagaimana menjadi seorang anak atau santrinya membela gurunya, untuk supaya tidak sakit. Tapi, tolong…berperilakulah, perilaku yang baik, karena walau bagaimanapun teteh sekarang mulai berfikir…saya bersyukur dan berterima kasih kepada teh Rini yang menjadi jalan saya bisa evaluasi, sejauh mana keseriusan(?) saya taat kepada suami, sejauh mana saya berlatih untuk berbagi, berlatih untuk tidak dengki, berlatih untuk memaafkan orang yang sepertinya menyakiti. Seperti itu A, terima kasih.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

————————————————-

Alasan AA Gym memilih Teh Rini

Mengapa dipilih Alfarini? Seorang yang baru masuk ke sini (DT). Saya lebih mendasarkan kepada istikharah, satu tahun, kurang lebih. Kalau baik, mudahkan…kalau tidak baik, jangan pernah terjadi. Saya tidak memilih karena saya mencintai berlebih. Tidak bisa dipungkiri Alfarini dikaruniai sesuatu yang menarik perhatian, tetapi …(ada satu kata yang tidak jelas)…sadar, saya tidak mau hanya karena itu.

Nah, rekan-rekan sekalian. Alfarini usianya hari ini genap 38 tahun. Alfarini, kakeknya adalah…neneknya adik-kakak dengan orangtuanya pak Habibie. Jadi, ini lahir di keluarga besar pak Habibie. SD, SMP nya di Al-Azhar, SMA di Surabaya, kuliah di UNAIR. Yang saya dengar, memiliki kecerdasan memadai, tanding dengan teh Ninih yang tidak pernah rangking 2, kecuali rangking 1 terus. IP nya 3,6. Saya pilih, diantara hikmahnya adalah karena ketabahan dan kesabarannya menghadapi situasi-situasi yang sangat berat dalam kehidupannya. Ibunya sudah stroke, ayahnya sudah uzur, pikun. Dia harus memikul tanggung jawab atas keluarganya seorang diri. Sudah janda, anaknya 3, usianya selisih setahun dengan istri saya. Dan teruji dalam situasi yang saaangat berat seperti ini, dimana saya tidak bisa mendampingi teh Rini dihina, dicaci, dimaki begitu banyak orang, dia harus menghadapinya seorang diri. Maha Suci Allah, yang membuka sedikit demi sedikit hikmah.

Sahabat saya Hari Sudarsono, yang membangun pesantren ini dari awal, baru saya tahu bahwa itu adalah saudara dekatnya, dan beliaulah, Hari Sudarsono lah yang menceritakan. Jadi, kalau selama ini ada informasi yang simpang siur, siapakah wanita ini? Jangan…jangan disisipkan intel dan sebagainya. Semakin lama, semakin saya kenali, Qiyamul Lailnya, standarnya adalah jam setengah 2 pagi, jam 2 pagi. Kesabarannya, alhamdulillah, saya syukuri. Tentu banyak kekurangan-kekurangan sebagai manusia, tetapi sesudah ijab qabul, saya sebagai suaminya memikul tanggung jawab untuk bisa membuat istri saya ini menjadi bagian dari dakwah ini. Mudah-mudahan Teteh bisa menjadi Kakak, berikut gurunya. Saya harap saudara tidak berburuk sangka kepada istri saya yang kedua ini. Dia adalah bagian dari takdir ini, teteh akan berubah menjadi lebih baik, insya Allah, syariatnya hadirnya Rini. Anak-anak saya lebih dekat dengan Allah, syariatnya dengan hadirnya Alfarini. Saya bisa belajar untuk terus mengubah diri, syariatnya adalah ditakdirkannya ada wanita bernama Alfarini.

Kenapa tidak dipilih dari anak Kyai yang sudah jadi? Mungkin takdir ini membuktikan bahwa menikahi itu harus bertanggung jawab memperbaiki, maaf, meningkatkan. Teh Ninih orangtuanya ulama, sudah jadi dari awal, saya hanya tinggal memoles. Alfarini, pengetahuan agamanya tidak sebanyak saudara-saudara, namun banyak juga pengetahuan dan pengalaman lainnya yang mungkin saudara belum memiliki. (sampai sini, rekaman terputus…)

Berikut ini adalah kutipan Penjelasan AA Gym tentang penikahan kedua beliau. Kutipan tersebut diketik oleh Sdr.Donny Reza (psychoavatar.blogspot.com) setelah mendengarkan file rekaman penjelasan beliau di depan santri-nya di Daarut Tauhiid pada tanggal 4 Desember 2006.

Jika dibandingkan versi rekamannya, tentu saja tulisan ini kurang “greget”, karena dalam versi rekamannya, jauh lebih emosional dan ada tekanan-tekanan dalam kata-kata tertentu. Sementara jika membaca tulisan ini, mungkin akan menimbulkan penafsiran yang berbeda. Namun, mudah-mudahan kutipan berikut ini bisa menjelaskan apa yang selama ini masih kabur. Selamat membaca.

———————————————–

Alhamdulillah, rekan-rekan sekalian. Inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh kita semua. Saya akan menyampaikan, sesuatu yang sangat sangat penting, dan…hal yang dianggap akan menjadi hal yang strategis untuk siapapun yang menginginkan perubahan.

Saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh civitas santri daarut tauhiid, andaikata keputusan yang aa ambil ini membuat banyak ketidaknyamanan. Pertama, ketidaknyamanan perasaan karena informasi yang kurang jelas. Yang kedua, ketidaknyamanan…karena mungkin bertentangan dengan sebagian keyakinan. Yang ketiga, karena akan ada dampak bagi Daarut Tauhiid, MQ maupun Kopontren.

Keputusan berpoligami ini bukan hal yang ringan, saya sadar sepenuhnya akan dampak (baik dan buruknya). 5 tahun dibahas, prolognya sudah sering dibacakan, apa gerangan alasannya, mengapa mengambil resiko yang sangat besar seperti ini?
Pertama, kita lihat bahwa…kata poligami bagi sebagian masyarakat indonesia masih dianggap sesuatu perilaku yang buruk. Tidak heran bila ibu-ibu memberi nasihat…”Jangan berpoligami…!”

Apalagi dengan adanya kejadian ini, sms yang… -sebagian sms yang saya lihat-…ibu-ibu yang begitu marahnya, sampai mau meludahi, memukul kalau bertemu AA, buku-buku disobek, potret tidak mau dilihat. Ini adalah bukan hal yang membuat kita emosi, tapi ini peta(?tidak terdengar jelas), betapa belum semua orang bisa siap mendengar kata poligami.

Ini menjadi pikiran…shalat jalan, shaum jalan, haji, umrah…tapi ketika mendengar kata poligami…tersengat. Menjadi marah, menjadi…ghibah, seakan ada hukum Allah yang salah. Saya mengerti…bahwa wanita begitu berat mendengar kata ini, dan ini manusiawi. Tetapi…manjadi tidak yakin kepada kebenaran, khususnya yang satu ini, menjadi memaki, memusuhi…ini yang harus kita bantu perbaiki.

Kita lihat juga, pada saat yang sama, pergaulan bebas, perzinahan, ttm…menjadi…sepertinya bukan sebuah perilaku buruk, masyarakat makin permissive terhadap hal ini. Saya sebetulnya menunggu akan ada tokoh yang berani mengubah paradigma ini, seperti zaman jilbab dulu.

Saudaraku sekalian, sesudah istikharah hampir satu tahun, maka…walaupun mungkin ada banyak kekurangan dan kesalahan di dalam pengambilan keputusan ini, saya memilih untuk melakukannya. Mengapa baru diumumkan sekarang? seperti halnya sepak bola, karena ini membutuhkan tim yang tangguh, saya harus menanti saat tim saya kuat…Teh Ninih, Anak-anak, Orang Tua. Besar harapan, Allah membuka waktunya, dan Alhamdulillah, pertolongan Allah…kemarin diberi kesempatan dibuka waktunya.

Satu…hikmahnya, bagi saya pribadi, ini saat yang paling tepat untuk menguji apakah selama ini saya menikmati pujian, penghargaan, popularitas, penghormatan, atau saya berjuang karena ingin sesuatu yang saya yakini benar. Alhamdulillah, dengan adanya situasi ini, betapa banyak perhatian dalam aneka bentuk, caci maki, kutukan, ancaman…dan saya sependapat seperti yang dikatakan pak Miftah Faridl, kita harus ikhlas menerima caci maki ini, andai kata kita benar-benar mau komit. Alhamdulillah…

Hikmah yang kedua, inilah kesempatan bagi masyarakat. Saya ingin tahu, dakwah saya selama ini mengajak orang komit kepada hukum Allah, aturan Allah, atau baru komit kepada suka Abdullah Gymnastiar. Kalau dia komit kepada hukum, berarti tidak ada masalah. Ini hal yang halal, ini hal yang dibolehkan, bukan dianjurkan…ini hal yang, juga Rasulullah tidak melarang, sahabat juga melakukan. Ini hal yang, aturan negara juga memberikan peluang. Ini bukan kejahatan, ini bukan zina, ini bukan selingkuh…INI HALAL!! Sesuatu yang halal, sesuatu yang boleh, tetapi mengapa sebagian orang sampai seperti itu kata-katanya? Berarti…saya dakwah belum berhasil membuat orang lebih yakin kepada kebenaran dari Allah, baru sampai kepada figur AA Gym. Ini baik hadirin, untuk menguji sampai sejauh mana efek dakwah.

Bagi saya pribadi, ini cobaan yang luar biasa mantapnya. Ternyata, poligami tidak semudah diucap. Setiap hari teruji sekali, bagaimana 2 istri ini dari sudut yang berbeda? belum lagi anak-anak, belum lagi masyarakat…menguras…AA pemula belum pernah berpoligami sebelumnya. Guru-guru saya juga jarang yang berpoligami terbuka. Ada yang nasihat diam-diam, ada yang memberi nasehat bagus…belum juga. Jadi, untuk terbuka secara nasional, belum ada gurunya. Dan ini tidak mudah, hadirin. Kalau ada gurunya mungkin lebih mudah.

Tetapi, saya yakin, saya bukan melakukan kejahatan. Saya tidak melakukan kemaksiatan, ini legal, ini halal…Bismillah. Hikmahnya, jadi lebih sungguh-sungguh bergantung kepada ALlah. Kepada siapa lagi, selain kepada ALLAH? Maha suci ALlah, mudah2an besok lusa akan nampak karunia ALlah lainnya bagaimana kita sudah serius menggantungkan kepada Allah.

Hikmah untuk istri saya. Ada yang bertanya…”AA Gym kurang apa teh Ninih? Teh Ninih baik, pandai, sholehah, cantik.” Sulit saya mengemukakan…ini adalah tanda cinta saya kepada istri saya. Saya tahu istri saya sangat baik, dan saya ingin istri saya menjadi lebih baik. Saya rindu melihat teh Ninih menjadi bidadari di sorga kelak…dan saya tahu…saya adalah salah satu penghalang yang membuat teteh bisa mencintai Allah sepenuh hati. Siapa suami yang tidak rindu istrinya menjadi pecinta Allah? Saya pasti mati…Apa yang bisa dilakukan oleh seorang suami yang cinta ke istrinya, kecuali ingin menjadi pecinta Allah yang dapat menjamin dirinya. Tapi, saya susah menjelaskan ini kepada umum. Saya tahu istri saya akan sakit. Tetapi seperti yang disuntik vitamin, mungkin sakit sebentar, besok lusa dia akan lebih kuat. Kalau saya nanti mati, mudah2an inilah warisan terbaik sebagai tanda cinta saya kepada istri saya…Saya percaya betul teteh akan kuat. Ayahnya ulama, nenek-kakeknya ulama, adik-kakaknya orang-orang yang terjaga, dia didoakan banyak orang. Saya tahu bagaimana teteh bangun malam. Saya ingin teteh hanya mencintai Allah daripada mencintai saya (AA Gym berbicara sambil menangis). Ini benar hadirin…(pada bagian ini, terdapat jeda beberapa detik, karena AA Gym dipeluk oleh seorang koleganya, dan terdengar juga suara tangisan AA Gym. Sebetulnya, di bagian ini, jika mendengarkan rekamannya lebih mengharukan daripada sekedar tulisan di sini. Karena emosinya lebih terdengar, dan pada beberapa bagian kalimat, AA Gym berbicara sambil menangis).

Susah saya mengungkapan dengan bahasa umum…

Mudah2an besok lusa, cita-cita saya, teteh selama di bumi ini menjadi ulama wanita, yang benar2 sesuai perkataan dan perbuatannya. Saya lihat umat terlalu banyak berkiblat kepada saya, ini tidak sehat. Jarang ada ulama wanita yang begitu penuh(?). Saya harus menggeser cinta para muslimah, mungkin lebih tepat kepada figur seorang ulama wanita. Saya siap menerima caci maki, saya siap dihina orang, saya siap dijauhi orang…mudah2an Allah menerima ini sebagai tanda cinta saya kepada teh Ninih, cinta saya kepada ummat, untuk mendapat figur yang lebih tepat. Wallahualam, Allah lah yang Maha Tahu. Hanya waktu yang akan memberikan bukti ini.

Mengapa saya berbuat kejam kepada anak2 saya? Bukan kejam. Siapa yang lebih mencintai anaknya selain orangtuanya sendiri? Apakah cinta dengan dibiarkan dia tidak mengenal kebenaran? Apakah cinta dibiarkan dengan segala sesuatu yang enak? Saya ingin anak saya tidak (pernah/terlalu?) mengatakan sesuatu yang salah tentang hukum Allah. Dia harus mengatakan bahwa ini adalah hukum Allah. Nggak boleh dicacati hati ini terhadap kebenaran dari Allah. Tidak mungkin Allah membolehkan sesuatu yang akan mencelakakan manusia. Tidak mungkin Allah memberikan aturan yang akan mencelakakan dan membinasakan, Allah yang paling tahu tentang manusia.

Saya tahu luka hati Gaida, Ghazi dan beraat sekali bagi saya. Tapi, saya percaya sepenuhnya saya tidak berbuat jahat. Ini adalah kebenaran yang tidak umum dilakukan. Alhamdulillah. Dan saya ingin anak-anak saya kuat, terlatih menghadapi yang sulit. Selama ini enak, dipuji, dihargai. Mereka akan menghadapi teman-temannya, lingkungannya. Saya ingin mereka kuat menjadi anak-anak yang kuat, dan mereka harus belajar berbagi kebahagiaan dengan yang lain.

Alhamdulillah. Tadi pagi sebelum anak-anak pergi ke sekolah…katakan Anakku untuk bapakmu…”harus kuat pak, harus kuat..”. Anak-anak memberikan dukungan luar biasa. Saya dapat sms dari gurunya…”Anak-anak AA kuat dan tegar, di sekolah biasa, walaupun saya tahu biasanya yang lain terpuruk”.

Saya percaya pertolongan Allah, bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan. Untuk daarut tauhiid, inilah saatnya, saudara lebih banyak bergantung kepada Allah daripada kepada Abdullah Gymnastiar. Mungkin akan ada penurunan jumlah jama’ah yang datang, pelatihan, pembeli…kalau saudara bergantung kepada Abdullah Gymnastiar, inilah saatnya saudara kecewa. Yang membagi rezeki bukanlah saya, Allah yang maha kuasa. Kita sudah sering mengatakan,”suatu saat jangan bergantung kepada AA”. Inilah saatnya. Yang daftar ke MQ Travel ada yang membatalkan, TIDAK APA-APA, BAGUS!! MEREKA HARUS LURUS NIATNYA!! Bukan karena AA Gym, HARUS KARENA ALLAH!!. Tamu ada yang membatalkan datang ke sini..ITU BAGUS!! Mereka tidak boleh datang karena manusia, mereka harus datang karena mau mencari ilmu, mencari kebenaran. Saya tidak melihat kerugian dengan berkurangnya orang datang, berkurangnya transaksi jual beli, disanalah keberuntungan dari ALlah, agar kita bener-bener tauhiid nya lurus.

Bagi kaum muslimah, yang takut suaminya menikah lagi, yang tiba-tiba menjadi benci kepada teh Rini… Teh Rini hanyalah seorang makhluk yang ditakdirkan oleh Allah menjadi bagian dari terjadinya ketentuan ini. Insya Allah, suatu saat mudah2an teh Ninih bisa menjelaskan apa hikmahnya. Apakah saudara benci kepada sesama wanita sendiri, dengki sehingga seperti yang dikatakan pak Miftah Faridl, berbuat sadis…orang yang berghibah itu orang yang dianggap sadis, karena seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Ini ujian keimanan bagi AKhwat. Bagi lelaki, ikhwan di daarut tauhiid, ini juga ujian keimanan, apakah serta merta ingin melakukan hal yang sama, padahal tidak tahu ilmunya?

Bagi ummat, ini adalah saatnya, mengetes apakah yang dicari selama ini hanya sesuatu yang enak, sesuai dengan seleranya, atau yang dicari yang benar menurut ALlah SWT. Mengapa begitu marah kepada saya? Karena tidak sesuai dengan harapannya. Harusnya, ummat menginginkan saya sesuai dengan harapan Allah, bukan harapannya. Alhamdulillah, akan ada saatnya sebagian orang tidak mau mendengar,menjauh, marah…tetapi saya percaya setiap hati itu adalah dalam genggaman Allah. Saat ini benci, belum tentu besok akan benci. Saat ini mencaci, belum tentu besok akan mencaci. Mengapa? Karena yang menanamkan cinta bukanlah rekayasa kita, yang menanamkan cinta hanyalah Allah SWT. Insya Allah, bagi saya tidak ada masalah, dihina, dicaci, dikutuk, diancam…ini adalah bagian yang belum pernah saya jalani selama ini.

Saudaraku sekalian, ini akan berproses beberapa waktu. Kalau saudara mengharapkan pertolongan ALlah dan ikhlas, semuanya menjadi mudah. Kalau saudara mencintai dunia, mencintai pujian, penghargaan, bergantung kepada makhluk…inilah saat yang terberat yang saudara jalani. Barang siapa yang Allah baginya, Hasbiyallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mal nassir.

Saudaraku sekalian, mudah2an kedepan dengan ijin ALlah akan terbukti, bentuk cinta seorang suami kepada keluarganya, kepada ummatnya, Insya ALlah. Saya harus kuat menjaga keikhlasan ini, saudarapun teruji kesetiaan, cinta kepada AA. Saya tidak berharap agar rekan2 mencintai, membela saya…Jangankan kepada rekan2, kepada teh Ninih saja…”Mamah, AA tidak menuntut mamah melakukan apapun untuk keputusan yang AA ambil ini”. Karena tidak bisa diungkapkan sekarang hikmahnya. Mudah2an rekan2 memaklumi, memaafkan, dan siap. Inilah babak baru dalam kehidupan saya, mungkin satu-dua tahun ini akan latihan mengembangkan kemampuan. Sebagai penggantinya, mudah2an ibu2 akan…tempat saya digunakan oleh teh Ninih. Mudah2an akan ada figur ulama lain yang bisa mengisi kekosongan ini, pada saatnya mudah2an AA Gym yang tampil lebih layak disebut ulama daripada sekarang ini yang hanya baru belajar berdakwah biasa. Saya membutuhkan situasi dimana teruji keikhlasan, teruji kegigihan, konsisten dalam kebenaran, apakah karena ALlah ataukah karena mencari kedudukan kepada manusia.

SEORANG wanita menelepon anggota DPR. “Selamat siang, Pak. Masih ingat saya? Kita
kan pernah tidur bersama. Saya punya videonya. Sekarang saya minta Rp 5 M. Kalau tidak, akan saya beberkan ke media,” katanya.
 

Mendapat telepon begitu, Pak DPR tertegun. Terbayang video smackdown rekannya, YZ dari Partai G pimpinan JK yang ditayangkan TV nasional terus-menerus itu. Terbayang anak dan istrinya. Terngiang juga pernyataan Permadi dari PDIP. Katanya, perilaku selingkuh model YZ sudah membudaya di kalangan anggota parlemen.  

Daripada karier politik tamat dan masa depan gelap, ia pun mau bertransaksi. Tapi tidak Rp 5 M karena tak punya uang sebanyak itu. Ia berhasil menegonya hingga hanya mengirim Rp 2 M kepada kurir si wanita. Tak lama kemudian, wanita itu menelepon lagi dan mengucapkan terima kasih. 

“Tapi, maaf, adik ini siapa? Dan kita pernah tidur bersama di mana ya?” tanya Pak DPR dengan gusar. 

“Kita pernah tidur bersama di ruang sidang, Pak. Waktu itu kita sama-sama sedang mendengarkan pidato Presiden. Saya
kan anggota DPR juga!”
 

Tidak jelas bagaimana kelanjutan anekdot ini. Tapi gara-gara video mesum YZ-ME ditambah kawin laginya pendakwah muda KH AG dari
kota B, masalah ranjang masuk bursa politik nasional. Tak tanggung-tanggung Presiden Yudhoyono lewat Menseskab Sudi Silalahi merencanakan memperluas PP 10 (1983) yang sebenarnya sudah direvisi pada 1990 (PP No 45).
 

Cuma cara berkomunikasi pihak Istana kurang taktis. Sehingga terkesan SMS bisa mengubah kebijakan pemerintah. Seolah SMS telah menjadi “pilar kelima” demokrasi setelah Legislatif, Eksekutif, Yudikatif dan Pers. Kebijakan negara bisa dibuat dengan SMS. (Coba penganggur, petani, pengantre minyak tanah, bisa kirim SMS ke Istana) 

Akibatnya wacana itu menuai badai kontroversi, jadi kontraproduktif.
Ada yang mengancam kalau poligami yang diakui Islam dihambat, perselingkuhan model YZ-ME bakal merebak, dan prostitusi tumbuh subur. Kalau itu yang terjadi, DPR perlu merancang lembaga baru yang mengurusi soal begituan. Mungkin namanya: Mahkamah Prostitusi.
 

Untung Presiden segera tanggap. Beliau minta semua pihak tidak terjebak pada pro-kontra dan saling memaksakan jalan pikiran masing-masing soal poligami. Masih terlalu banyak masalah mendasar dan penting yang membutuhkan pemecahan di luar masalah poligami, yaitu kemiskinan, pengangguran, dan penanganan bencana.  

“Kau yang mulai, kau yang mengakhiri,” senandung Gus Dur di rumah sakit. Itu lagu dangdut yang ngetop karena jadi ilustrasi film Inem Pelayan Sexy yang fenomenal pada tahun 80-an. 

Tapi PP 10 itu
kan warisan Orde Baru yang dipakai sebagai instrumen penting negara memasuki wilayah privat. Sampai ke atas ranjang, mengatur dan mengawasi siapa teman tidur kita. Dulu lewat PP 10 ini penguasa bisa menyingkirkan kerikil-kerikil di jajaran birokrasi.
 

Makanya, para penggemar poligami mungkin perlu membawa PP 10 dan turunannya ke Mahkamah Konstitusi. Mumpung lembaga yang satu ini lagi hobi membatalkan UU. Kapan lagi!

Sumber : Politisiana Adhie M. Massardi, rakyatmerdeka.co.id

Api Ledakan Pipa Gas Pertamina di Porong, Sidoarjo

Alloh Maha Besar! Ledakan pipa gas milik Pertamina di lokasi lumpur Lapindo, jalan Tol Porong-Gempol KM 38 pada 22 November 2006 malam yang menewaskan 13 orang masih menyimpan misteri.
Ada yang mengejutkan sesaat api melumat tanggul di sekitar pusat semburan lumpur tersebut.
 
Seorang pekerja di bagian drainase Timnas Lumpur Lapindo yang sedang memantau pembuangan lumpur di Pond 4, bernama Samuel Johnson Sutanto, secara tidak sengaja mengabadikan jilatan api yang cukup mencengangkan. Bagaimana tidak! Tanpa disadarinya, hasil bidikan fotografer amatir itu menunjukkan keagungan Alloh Yang Maha Esa.  Api yang membumbung setinggi hampir 1 kilometer itu ternyata sempat membentuk lafal Alloh dalam tulisan Arab. Selain itu, api itu juga menunjukkan gambar logo lama perusahaan minyak negara, PT Pertamina: kuda laut. Foto tersebut bukanlah hasil rekayasa alias dijamin asli. 

Pria berumur 26 tahun yang juga pemeluk Katolik taat ini mengambil foto-foto jilatan api pipa gas Pertamina itu dengan kamera digital poket Sony 7,1 Mega Pixel dari jalan tol Porong KM 40 di kawasan Desa Besuki, Porong, Sidoarjo dan berjarak sekitar 700 meter dari sumber ledakan. Dia menjepret jilatan api ledakan pipa gas Pertamina di luapan lumpur Lapindo secara asal-asalan saja beberapa kali. Dari sekian foto koleksinya, hanya ada satu foto yang memperlihatkan jilatan api itu mirip lafal Alloh. Fenomena alam yang aneh bin ajaib ini merupakan suatu peringatan bagi umat manusia yang selama ini sudah merusak keseimbangan alam sejak masa lalu dan juga peringatan kepada para pemimpin negeri ini untuk lebih memikirkan kepentingan rakyat dan ingat kepada Tuhannya.  Mungkin saja Alloh juga mengingatkan kepada
Pemerintah RI supaya cepat menanggulangi luapan lumpur karena korbannya sudah terlalu banyak, namun penanggulangannya masih jalan di tempat saja.
  Momentum ini hendaknya dapat digunakan oleh semua pihak untuk kembali menata hatinya masing-masing. Kalau seorang pemimpin, sebelum memimpin negara harus menata hatinya dulu sebelum menata Negara. 

Sumber : Detik.com 

Bantahan untuk orang-orang anti-poligami yang menggunakan dalil bahwa Nabi melarang putrinya dipoligami. Sumber : http://www.eramuslim.com/ust/nkh/4576c6ff.htm

Assalamualaikum wr. wb.

Pak Ustadz,

Baru-baru ini poligami menjadi sorotan, ada yang pro dan kontra, namun saya pernah mendengar ada hadits yang Rasululah sendiri melarang anaknya (Fatimah), di-poligami, padahal Rasulullah sendiri berpoligami. Sepertinya bertentangan, mengapa demikian? Bagaimanakah yang benar?

Yang kedua, haruskah pria yang mau poligami meminta izin isteri pertamanya? Kalau ya, dan isterinya tidak mengizinkan, bagaimana, apakah harus tetap poligami?

Mohon penjelasan dari pak ustadz.

Wass. wr. wb.

Bondan Pamungkas
bondan_73 at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kita harus membedakan antara hukum yang membolehkan poligami dengan sikap atas suatu keadaan yang bersifat subjektif.

Secara hukumnya, poligami itu dibolehkan. Seratus persen halal dan langsung ditetapkan oleh Al-Quran sendiri. Tidak boleh ada mengubah ayat tersebut selama-lamanya, kecuali dia kafir kepada Allah SWT.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa’: 3)

Ayat di atas sangat tegas dan jelas menggambarkan kehalalan dan kebolehan perpoligami, tentunya dengan syarat-syaratnya.

Namun tindakan Rasulullah SAW yang meminta kepada menantunya, Ali bin Abi Thalib ra. untuk tidak mempoligami anaknya, sama sekali tidak bertentangan dengan ayat tentang poligami di atas. Permintaan beliau bersifat sangat manusiawi.

Harus kita ingat bahwa selain sebagai pembawa risalah, Muhammad SAW juga seorang manusia, yang punya isteri, anak, menantu serta teman. Hubungan yang bersifat pribadi antara beliau SAW dengan Ali bin Abu Thalib sangat dekat. Karena Ali ra. sejak kecil diasuh dan tinggal di rumah beliau SAW. Sehingga posisinya sudah seperti anak sendiri. Dan Rasulullah SAW sendiri sejak kecil tinggal dan diasuh oleh ayahnya Ali ra, maka lengkaplah kedekatan dan kemesraan antara keduanya.

Hubungan mereka melewati batas-batas hubungan formal antara seorang nabi dan umatnya, mereka ibarat ayah dan anak, kakak dan adik seppupu, teman dekat, bahkan sahabat.

Tidak jarang Rasulullah SAW ikut campur dalam urusan keluarga Ali ra. dan Fatimah ra. Misalnya, suatu ketika Fatimah ra. meminta kepada beliau SAW untuk diberikan pembantu rumah tangga, namun beliau menolaknya. Bagi Ali ra, penolakan nabi SAW itu tidak pernah membuatnya tersinggung, sebab baginya Rasulullah SAW terlalu dekat.

Namun secara manusiawi juga, terkadang Ali bin Abu Thalib ra. merasa kikuk dengan posisi sebagai teman dan sekaligus mertua. Sampai-sampai ketika bertanya dengan keadaaannya yang mudah keluar mazi, justru beliau minta shahabat lain bertanya kepada Rasulullah SAW.

Kedekatan Ali ra. dengan Rasulullah SAW ini sangat istimewa, tidak dimiliki oleh para shahabat lainnya. Sebab selain hubungan mertua menantu, mereka berdua adalah sepupu yang masing-masing pernah tinggal dan dibesarkan dalam satu rumah.

Saking dekatnya ayah Ali, yaitu Abu Thalib dengan diri Muhammad SAW, sampai-sampai dia punya kursi khusus yang tidak boleh seorang anaknya untuk mendudukinya, kecuali Muhammad SAW. Sedemikian istimewanya kedudukan beliau SAW di mata Abu Thalib dan anaknya.

Maka ketika Ali ra. menikahi puteri Rasululah SAW, Fatimah ra, hubungan mereka sangat dekat dan mesra. Bagi Ali ra, mertuanya itu sudah seperti ayahnya sendiri, teman sendiri dan tempat curhat. Demikian juga dengan Rasulullah SAW, baginya Ali bin Abi Thalib ra. lebih dari sekedar menantu, tetapi teman baik, shahabat, tempat curhat serta seperti anak kandung sendiri.

Maka amat wajar dan manusiawi ketika Rasulullah SAW menginginkan agar Ali bin Thalib tidak mengawini wanita lain selain puterinya, paling tidak selama beliau SAW hidup. Permintaan ini berlaku sangat khusus hanya antara mereka berdua saja. Tidak bisa dijadikan dasar hukum yang umum hingga seolah poligami dilarang di dalam Islam.

Kalau memang benar poligami dilarang dalam Islam, seharusnya permintaan untuk tidak menikahi dua wanita atau lebih bukan hanya ditujukan kepada Ali ra. seorang, tetapi kepada semua shahabat nabi SAW. Padahal begitu shahabat nabi SAW yang melakukan poligami. Jumlahnya tidak terhitung. Bahkan diri beliau SAW melakukan poligami.

As-Sayyid bin Abdul Aziz As Sa’dani mengatakan bahwa sesungguhnya hadits atau hukum larangan poligami ini khusus untuk putri Rasulullah SAW. Dan bahwasannya ia tidak akan berkumpul dengan putri musuh Allah. Oleh karena itu, putri Rasulullah tidak akan bersatu bersama putri musuh Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Munayyir Al-Iskandari, “Ini termasuk dalam wanita wanita yang diharamkan. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya aku khawatir mereka akan menfitnah putriku.” Kalau Ali bin Abu Thalib menikah dengan selain putri Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, niscaya Nabi tidak akan mengingkarinya…

Maka argumentasi haramnya poligami hanya berdasarkan karena Rasulullah SAW melarang Ali bin Abi Thalib menikahi Juwairiyah setelah beristrikan Fatimah ra. adalah argumentasi yang kurang tepat. Mungkin mereka yang mengatakannya terbawa nafsu dan kurang memahami hakikat dan realita sirah nabawiyah yang sesungguhnya. Juga kurang mengenal metode istimbath hukum fiqih yang baku.

Cukup dengan melihat siapa saja yang berargumentasi demikian, kita akan tahu kebanyakannya bukan ahli syariah. Sehingga tidak berhak untuk secara serampangan melakukan istimbat hukum syariah. Sesungguhnya hukum tentang poligami hanya tepat disimpulkan oleh mereka yang punya kapasitas dalam ilmu syariah. Tanpa penguasaan yang benar terhadap ilmu syariah, maka hasilnya tidak pernah bisa dipertanggung-jawabkan.

Izin Dari Isteri

Secara hukum sah pernikahan, tidak ada ketentuan untuk menikah lagi harus mendapatkan izin dari isteri pertama. Jadi poligami yang dilakukan seorang suami tanpa izin isterinya, tidaklah membuat poligami itu tidak sah secara hukum.

Namun sesuatu yang bukan syarat sah, tidak berarti harus ditinggalkan. Misalnya, syarat sah shalat itu menutup aurat. Dan aurat laki-laki itu ‘hanya’ antara pusat dan lutut saja. Seandainya seseorang shalat hanya menggunakan celana kolor yang menutupi lutut hingga pusat, maka secara hukum tetap sah. Tetapi secara kelayakan umum dan etika, rasanya sulit diterima. Apalagi orang ini menjadi imam shalat di masjid dan berkhutbah sambil telanjang dada, wah rasanya agak aneh. Tetapi kalau kita bicara hukumnya, tetap saja sah.

Demikian juga dengan izin dari isteri untuk poligami, tidak ada hak siapapun yang mengharuskan suami mengantungi izin isteri untuk menikah lagi. Namun sebagai suami yang baik, alangkah baiknya bila jah hari sebelum berpoligami, dia sudah menyiapkan mental isterinya, sehingga tidak jatuh terkaget-kaget ketika mendengarnya.

Bukankah Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Ummul Mu’minin Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada isteriku.” (HR At-tirmizy)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Sebuah tulisan menarik tentang poligami, dengan tinjauan yang cukup berimbang dari berbagai sisi. Sumber : http://www.eramuslim.com/ust/nkh/4573eb6e.htm
Assalaamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Pak Ustadz, bagaimana sebenarnya hukum poligami di Islam, apakah ini syariatkan? Kenapa manusia sekarang sepertinya sangat buruk menganggap orang yang mampu melakukan poligami, seakan-akan poligami ini suatu yang tidak manusiawi?

Pengaruh pola pikir orang-orang kafir yang ingin merusak Islam ini telah diadopsi oleh umat Islam itu sendiri. Orang-orang yang tidak melakukan poligami tapi melacur, selingkuh, berzina malah tidak dijadikan masalah, padahal nyata-nyata itu suatu kemaksiatan, tetapi yang halal malah mereka hina?

Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi hukum poligami ini?

Wassallamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ahmad Wanto
aw at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebelum kita bicara tentang pandangan syariah Islam tentang poligami, kita harus pahami terlebih dahulu bahwa poligami sudah ada jauh sebelum zaman kedatangan agama Islam.

Boleh dibilang bahwa poligami itu bukan semata-mata produk syariat Islam. Jauh sebelum Islam lahir di tahun 610 masehi, peradaban manusia di penjuru dunia sudah mengenal poligami, menjalankannya dan menjadikannya sebagai bagian utuh dari bentuk kehidupan wajar. Bahkan boleh dibilang bahwa tidak ada peradaban manusia di dunia ini di masa lalu yang tidak mengenal poligami.

Lebih jauh, kalau kita buka sejarah umat manusia, sesungguhya peradaban kita sudah mengenal poligami dalam bentuk yang sangat mengerikan. Misalnya, seorang laki-laki bisa saja memiliki bukan hanya 4 isteri, tapi ratusan isteri.

Dalam kitab orang Yahudi perjanjian lama, Daud disebutkan memiliki 300 orang isteri, baik yang menjadi isteri resminya maupun selirnya. (silahkan baca buku Ruang lingkup Aktivitas Wanita Muslimah, hal. 184 oleh Dr. Yusuf Al-Qaradawi).

Dalam Fiqhus-Sunnah, As-Sayyid Sabiq dengan mengutip kitab Hak-hak Wanita Dalam Islam karya Ustaz Dr. Ali Abdul Wahid Wafi menyebutkan bahwa bila kita runut dalam sejarah, sebenarnya poligami merupakan gaya hidup yang diakui dan berjalan dengan lancar di pusat-pusat peradaban manusia.

Bahkan bisa dikatakan bahwa hampir semua pusat peradaban manusia (terutama yang maju dan berusia panjang), telah mengenal poligami dan mengakuinya sebagai sesuatu yang normal dan formal. Para ahli sejarah mendapatkan bahwa hanya peradaban yang tidak terlalu maju saja dan tidak berusia panjang yang tidak mengenal poligami.

Bahkan agama Nasrani sekalipun mengenal dan mengajarkan poligami. Berbeda dengan apa yang sering diungkapkan hari ini, namun Nabi Isa dan para pengikutnya mengajarkan dan mengakui poligami.

Kalau pun para pengikut kristiani sekarang ini seolah-olah anti dengan poligami, menurut ahli sejarah, karena saat itu penyebaran Nasrani terjadi di Romawi dan Yunani, sementara kedua peradaban ini memang tidak mengenal poligami, jadilah akhirnya seolah-olah agama Nasrani itu melarang poligami. Sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan sumber asli ajaran mereka sendiri.

Ustaz As-Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa peradaban maju seperti Ibrani yang melahirkan bangsa Yahudi mengenal poligami. Begitu juga dengan peradaban Shaqalibah yang melahirkan bangsa Rusia. Termasuk juga negeri Lituania, Ustunia, Chekoslowakia dan Yugoslavia, semuanya sangat mengenal poligami.

Masih ditambah lagi dengan bangsa Jerman, Swis, Saksonia, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia dan tidak terkecuali, Inggris.

Jadi pendapat bahwa poligami itu hanya produk hukum Islam adalah tidak benar. Sebab bangsa Arab sebelum masa kedatangan Islam pun mengenal poligami. Dalam salah satu hadits disebutkan bahwa ada seorang masuk Islam dan masih memiliki 10 orang isteri. Lalu oleh Rasulullah SAW diminta untuk memilih empat saja dan selebihnya diceraikan. Beliau bersabda:

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pilihlah 4 orang dari mereka dan ceraikan sisanya.” (HR At-tirmizy1128 danIbnu Majah1953)

Masih menurut beliau, poligami itu bukan hanya milik peradaban masa lalu dunia, tetapi hari ini masih tetap diakui oleh negeri dengan sistem hukum yang bukan Islam seperti Afrika, India, China dan Jepang.

Sehingga jelaslah bahwa poligami adalah produk umat manusia, produk kemanusiaan dan produk peradaban besar dunia. Islam hanyalah salah satu yang ikut di dalamnya dengan memberikan batasan dan arahan yang sesuai dengan jiwa manusia.

Islam datang dalam kondisi di mana masyarakat dunia telah mengenal poligami selama ribuan tahun dan telah diakui dalam sistem hukum umat manusia. Justru Islam memberikan aturan agar poligami itu tetap selaras dengan rasa keadilan dan keharmonisan.

Misalnya dengan mensyaratkan adanya keadilan dan kemampuan dalam nafkah. Begitu juga Islam sebenarnya tidak membolehkan poligami secara mutlak, sebab yang dibolehkan hanya sampai empat orang isteri. Dan segudang aturan main lainnya sehingga meski mengakui adanya poligami, namun poligami yang berkeadilan sehingga melahirkan kesejahteraan.

Barat adalah Pendukung Poligami yang Tidak Manusiawi

Dan kini karena masyarakat barat banyak menganut agama nasrani, ditambah lagi latar belakang budaya mereka yang berangkat dari Romawi dan Yunani kuno, maka mereka pun ikut-ikutan mengharamkan poligami.

Namun anehnya, sistem hukum dan moral mereka malah membolehkan perzinahan, homoseksual, lesbianisme dan gonta ganti pasangan suami isteri. Padahal semua pasti tahu bahwa poligami jauh lebih beradab dari semua itu. Sayangnya, ketika ada orang berpoligami dan mengumumkan kepoligamiannya, semua ikut merasa `jijik`, sementara ketika hampir semua lapisan masyarakat menghidup-hidupkan perzinahan, pelacuran, perselingkuhan, homosek dan lesbianisme, tak ada satu pun yang berkomentar jelek.

Semua seakan kompak dan sepakat bahwa perilaku bejat itu adalah `wajar` terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan modern.

Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa pada hakikatnya apa yang dilakukan oleh Barat pada hari ini dengan segala bentuk pernizahan yang mereka lakukan tidak lain adalah salah satu bentuk poligami juga, meski tidak dalam bentuk formal.

Dan kenyataaannya mereka memang terbiasa melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan siapapun yang mereka inginkan. Di tempat kerja, hubungan seksual di luar nikah menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh mereka, baik dengan sesama teman kerja, atau antara atasan dan bawahan atau pun klien mereka.

Di tempat umum mereka terbiasa melakukan hubungan seksual di luar nikah baik dengan wanita penghibur, pelayan restoran, artis dan selebritis.

Di sekolah pun mereka menganggap wajar bila terjadi hubungan seksual baik sesama pelajar, antara pelajar dengan guru atau dosen, antar karyawan dan seterusnya. Bahkan di dalam rumaah tangga pun mereka menganggap boleh dilakukan dengan tetangga, pembantu rumah tangga, sesama angota keluarga atau dengan tamu yang menginap.

Semua itu bukan mengada-ada karena secara jujur dan polos mereka akui sendiri dan tercermin dalam film-film Hollywood di mana hampir selalu dalam setiap kesempatan mereka melakukan hubungan seksual dengan siapa pun.

Jadi peradaban barat membolehkan poligami dengan siapa saja tanpa batas, bisa dengan puluhan bahkan ratusan orang yang berlainan. Dan sangat besar kemungkinannya mereka pun telah lupa dengan siapa saja pernah melakukannya karena saking banyaknya. Dan semua itu terjadi begitu saja tanpa pertanggung-jawaban, tanpa ikatan, tanpa konsekuensi dan tanpa pengakuan. Apabila terjadi kehamilan, sama sekali tidak ada konsekuensi hukum untuk mewajibkan bertanggung-jawab atas perbuatan itu.

Poligami tidak formal alias seks di luar nikah itu alih-alih dilarang, malah sebaliknya dilindungi dan dihormati sebagai hak asasi. Lucunya, banyak negara yang mengharamkan poligami formal yang mengikat dan menuntut tanggung jawab, sebaliknya seks bebas yang tidak lain merupakan bentuk poligami yang tidak bertanggung jawab malah dibebaskan, dilindungi dan dihormati.

Untuk kasus ini, Syiekh Abdul Halim Mahmud menceritakan sebuah kejadian lucu yang terjadi di sebuah negeri sekuler di benua Afrika. Ada seorang tokoh Islam yang menikah untuk kedua kalinya (berpoligami) secara syah menurut aturan syar`i. Namun berhubung negeri itu melarang poligami secara tegas, maka pernikahan itu dilakukan tanpa melaporkan kepada pemerintah.

Rupanya, inteljen sempat mencium adanya pernikah itu dan setelah melakukan pengintaian intensif, dikepunglah rumah tokoh ini dan diseretlah dia ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Melihat situasi yang timpang seperti ini, maka akal digunakan. Tokoh ini dengan kalem menjawab bahwa wanita yang ada di rumahnya itu bukan isterinya, tapi teman selingkuhannya. Agar tidak ketahuan isteri pertamanya, maka mereka melakukannya diam-diam.

Mendengar pengakuannya, kontan saat itu juga pihak pengadilan atas nama pemerintah meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalah-pahaman itu. Dan memulangkannya dengan baik-baik serta tidak lupa tetap meminta maaf atas insiden itu.

Pandangan Syariah Islam Tentang Poligami

Poligami atau dikenal dengan ta`addud zawaj pada dasarnya mubah atau boleh. Bukan wajib juga bukan sunnah (anjuran). Karena melihat siyaqul-ayah memang mensyaratkan harus adil. Dan keadilan itu yang tidak dimiliki semua orang. Allah SAW berfirman:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS. An-Nisa: 3)

Jadi syarat utama poligami adalah adil terhadap isteri, baik dalam nafkah lahir batin, atau pun dalam perhatian, kasih sayang, perlindunganserta alokasi waktu. Jangan sampai salah satunya tidak diberi dengan cukup. Apalagi kesemuanya tidak diberi cukup nafkah, maka hal itu adalah kezaliman.

Sebagaimana hukum menikah yang bisa memiliki banyak bentuk hukum, maka begitu juga dengan poligami, hukumnya sangat ditentukan oleh kondisi seseorang, bahkan bukan hanya kondisi dirinya tetapi juga menyangkut kondisi dan perasaan orang lain, dalam hal ini bisa saja isterinya atau keluarga isterinya. Pertimbangan orang lain ini tidak bisa dimentahkan begitu saja dan tentunya hal ini sangat manusiawi sekali.

Karena itu kita dapati Rasulullah SAW melarang Ali bin abi Thalib untuk memadu Fatimah yang merupakan putri Rasulullah SAW. Sehingga Ali bin Abi Thalim tidak melakukan poligami.

Kalau hukum poligami itu sunnah atau dianjurkan, maka apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW untuk melarang Ali berpoligami akan bertentangan.

Selain itu yang sudah menjadi syarat paling utama dalam pertimbangan poligami adalah masalah kemampuan finansial. Biar bagaimana pun ketika seorang suami memutuskan untuk menikah lagi, maka yang harus pertama kali terlintas di kepalanya adalah masalah tanggung jawab nafkah dan kebutuhan hidup untuk dua keluarga sekaligus. Nafkah tentu saja tidak berhenti sekedar bisa memberi makan dan minum untuk isteri dan anak, tapi lebih dari itu, bagaimana dia merencakan anggaran kebutuhan hidup sampai kepada masalah pendidikan yang layak, rumah dan semua kebutuhan lainnya.

Ketentuan keadilan sebenarnya pada garis-garis umum saja. Karena bila semua mau ditimbang secara detail pastilah tidak mungkin berlaku adil secara empiris. Karena itu dibuatkan garis-garis besar seperti maslaah pembagian jatah menginap. Menginap di rumah isteri harus adil. Misalnya sehari di isteri tua dan sehari di isteri muda. Yang dihitung adalah malamnya atau menginapnya, bukan hubungan seksualnya. Karena kalau sampai hal yang terlalu mendetail harus dibuat adil juga, akan kesulitan menghitung dan menimbangnya.

Secara fithrah umumnya, kebutuhan seksual laki-laki memang lebih tinggi dari wanita. Dan secara faal, kemampuan seksual laki-laki memang dirancang untuk bisa mendapatkan frekuensi yang lebih besar dari pada wanita.

Nafsu birahi setiap orang itu berbeda-beda kebutuhannya dan cara pemenuhannya. Dari sudut pandang laki-laki, masalah `kehausan` nafsu birahi sedikit banyak dipengaruhi kepada kepuasan hubungan seksual dengan isteri. Bila isteri mampu memberikan kepuasan skesual, secara umum kehausan itu bisa terpenuhi dan sebaliknya bila kepuasan itu tidak didapat, maka kehausan itu bisa-bisa tak terobati. Akhirnya, menikah lagi sering menjadi alternatif solusi.

Umumnya laki-laki membutuhkan kepuasan seksual baik dalam kualitas maupun kuantitas. Namun umumnya kepuasan kualitas lebih dominan dari pada kepuasan secara kuantitas. Bila terpenuhi secara kualitas, umumnya sudah bisa dirasa cukup. Sedangkan pemenuhan dari sisi kuantitas saja sering tidak terlau berarti bila tidak disertai kualitas, bahkan mungkin saja menjadi sekedar rutinitas kosong. Lagi-lagi menikah lagi sering menjadi alternatif solusi.

Secara fisik, terkadang memang ada pasangan yang agak ekstrim. Di mana suami memiliki kebutuhan kualitas dan kuantitas lebih tinggi, sementara pihak isteri kurang mampu memberikannya baik dari segi kualitas dan juga kuantitas. Ketidak-seimbangan ini mungkin saja terjadi dalam satu pasangan suami isteri. Namun biasanya solusinya adalah penyesuaian diri dari masing-masing pihak. Di mana suami berusaha mengurangi dorongan kebutuhan untuk kepuasan secara kualitas dan kuantitas. Dan sebaliknya isteri berusaha meningkatkan kemampuan pelayanan dari kedua segi itu. Nanti keduanya akan bertemu di ssatu titik.

Tapi kasus yang ekstrim memang mungkin saja terjadi. Suami memiliki tingkat dorongan kebutuhan yang melebihi rata-rata, sebaliknya isteri memiliki kemampuan pelayanan yang justru di bawah rata-rata. Dalam kasus seperti ini memang sulit untuk mencari titik temu. Karena hal ini merupakan fithrah alamiah yang ada begitu saja pada masing-masing pihak. Dan kasus seperti ini adalah alasan yang paling logis dan masuk akal untuk terjadinya penyelewengan, selingkuh, prostitusi, pelecehan seksual dan perzinahan.

Sehingga jauh-jauh hari Islam sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya fenomena ini dengan membuka pintu untuk poligami dan menutup pintu ke arah zina. Dari pada zina yang merusak nilai kemanusiaan dan harga diri manusia, lebih baik kebutuhan itu disalurkan lewat jalur formal dan legal. Yaitu poligami.

Dan kenyataanya, angka kasus sejenis lumayan banyak. Namun antisipasinya sering terlihat kurang cerdas bahkan mengedepankan ego. Hukum agama nasrani jelas-jelas melarang poligami yang legal. Begitu juga hukum positif di banyak negeri umumnya cenderung menganggap poligami itu tidak bisa diterima. Apalagi hukum non formal yang berbentuk penilaian masyarakat yangumumnya juga menganggap poligami itu hina dan buruk.

Secara tidak sadar semuanya lebih memaklumi kalau dalam kasus seperti yang kita bicarakan ini, solusinya adalah ZINA dan bukan poligami. Nah, inilah terjungkir baliknya nilai-nilai agama yang dikalahkan dengan rasa dan selera subjektif hawa nafsu manusia.

Berlebihan Dalam Memahami Masalah Poligami Dalam Islam

Ada orang yang terlalu berlebihan dalam memahami kebolehan poligami dalam Islam. Dan sebaliknya, ada kalangan yang berusaha menghalang-halangi terjadinya poligami dalam Islam, meski tidak sampai menolak syariatnya.

a. Pihak yang Berlebihan

Menurut kalangan ini, poligami adalah perkara yang sangat utama untuk dikerjakan bahkan merupakan sunnah muakkadah dan pola hidup Rasulullah SAW. Kemana-mana mereka selalu mendengungkan poligami hingga seolah hamir mendekati wajib.

Pemahaman keliru seperti itu sering menggunakan ayat poligami yang memang bunyinya seolah seperti mendahulukan poligami dan bila tidak mampu, barulah beristri satu saja. Istilahnya, poligami dulu, kalau tidak mampu, baru satu saja.

Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS. An-Nisa: 3)

Padahal makna ayat itu sama sekali tidak demikian. Karena meski sepintas ayat itu kelihatan mendahulukan poligami lebih dahulu, tapi dalam kenyataan hukum hasil dari istinbath para ulama dengan membandingkannya dengan dalil-dalil lainnya menunjukan bahwa poligami merupakan jalan keluar atau rukhshah (bentuk keringanan) atas sebuah kebutuhan. Bukan menempati posisi utama dalam masalah pernikahan.

Alasan agar tidak jatuh ke dalam zina adalah alasan yang ma`qul (logis) dan sangat bisa diterima. Karena Allah SWT memang memerintahkan agar seorang mukmin menjaga kemaluannya. Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (QS. Al-Mukminun: 5)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,”Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (QS. Al-Ma`arij: 29)

Bila satu isteri saja masih belum bisa menahan gejolak syahwatnya, sementara secara nafkah dia mampu berbuat adil, bolehlah seseorang untuk menikah lagi dengan niat menjaga agamanya. Bukan sekedar memuaskan nafsu syahwat saja.

Bentuk kekeliruan yang lain adalah rasa terlalu optimis atas kemampuan menanggung beban nafkah. Padahal Islam tetap menutut kita berlaku logis dan penuh perhitungan. Memang rezeki itu Allah SWT yang memberi, tapi rezeki itu tidak datang begitu saja.

Bahkan untuk orang yang baru pertama kali menikah pun, Rasulullah SAW mensyaratkan harus punya kemampuan finansial. Dan bila belum mampu, maka hendaknya berpuasa saja.

Jangan sampai seseorang yang penghasilannya senin kamis, tapi berlagak bak seorang saudagar kaya yang setiap hari isi pembicaraannya tidak lepas dari urusan ta`addud. Ini jelas sangat `njomplang`, jauh asap dari api.

b. Pihak yang Mencegah Poligami

Di sisi lain, ada kalangan yang menentang poligami atau paling tidak kurang bersimpati terhadap poligami. Mereka pun sibuk membolak balik ayat Al-Quran Al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW untuk mencari dalih yang bisa melarang atau minimal memberatkan jalan menuju poligami.

Misalnya dengan mengikat seorang suami untuk janji tidak menikah lagi ketika melangsungkan pernikahan pertamanya. Janji itu diqiyaskan dengan sighat ta’liq yang bila dilanggar maka isterinya diceraikan.

Menanggapi hal ini, para ulama berbeda pendapat tentang syarat tidak boleh melakukan poligami bagi suami yang diajukan oleh isterinya pada saat aqad nikah. Apakah pensyaratan tersebut dibolehkan atau tidak?

Sebahagian ulama menyatakan bahwa pensyaratan tersebut diperbolehkan, sedangkan yang lain berpendapat hal tersebut dimakruhkan tetapi tidak haram. Karena dengan adanya pensyaratan tersebut maka suami akan merasa terbelenggu yang pada akhirnya akan menimbulakn hubungan yang kurang harmonis di antara keduanya.

Bentuk lainnya dari upaya menelikung poligami dalam Islam, dikatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melakukan poligami kecuali hanya kepada janda saja. Tidak pernah kepada wanita yang perawan. Memang ketika menikahi Aisyah ra, status Rasulullah SAW adalah seorang duda yang ditinggal mati isterinya.

Dalam menjawab masalah ini, sebenarnya syarat harus menikahi wanita yang berstatus janda bukanlah syarat untuk poligami. Meski Rasulullah SAW memang lebih banyak menikahi janda ketimbang yang masih gadis. Namun hal itu terpulang kepada pertimbangan teknis di masa itu yang umumnya untuk memuliakan para wanita atau mengambil hati tokoh di belakang wanita itu.

Pertimbangan ini tidak menjadi syarat untuk poligami secara baku dalam syariat Islam.

Sebagian kalangan juga ingin menghalangi poligami dengan dasar bahwa syarat berlaku adil dalam Al-Quran Al-Karim adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan. Dengan demikian, maka poligami dilarang dalam Islam.

Padahal, meski ada ayat yang demikian, yang dimaksud dengan “keadilan tidak dapat dilakukan” adalah keadilan yang bersifat menyeluruh baik materi maupun ruhiyah. Sementara keadilan yang dituntut dalam sebuah poligami hanya sebatas keadilan secara sesuatu yang bisa diukur dan lebih bersifat materi. Sedangkan masalah cinta dalam dada, sangat sulit untuk diidentifikasi.

Namun demikian, Rasulullah SAW mengancam orang yang berlaku tidak adil kepada isterinya dengan ancaman berat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Jika kita menyembah Aa Gym, ketahuilah Aa Gym pasti akan mati.
Jika kita belajar mengaji karena Aa Gym, ketahuilah Aa Gym hanyalah seorang manusia yang bisa benar dan bisa salah.
Jika kita amat sangat mencintai Aa Gym, ketahuilah Aa Gym telah menjatuhkan pilihannya kepada orang lain.
Jika kita hendak poligami seperti Aa Gym, ketahuilah Aa Gym melarang berpoligami kecuali dengan ilmu yang benar dan akhlaq yang mulia (adil).
Jika kita kecewa gara-gara poligaminya Aa Gym, ketahuilah bahwa perzinaan yang merajalela di dalam keluarga dan masyarakat Anda yang seharusnya Anda lebih kecewa lagi.
Jika kita tidak setuju dengan poligami, ketahuilah Islam telah membolehkan poligami dan mengharamkan/mengutuk perzinaan.

Ketahuilah, kita hidup di dalam masyarakat yang sakit, yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.

Kalender

November 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Blog Stats

  • 11,958 hits